SingaporeSDA AsiaIndiaSDA India

  • Selasa, 07 Oktober 2008, 15:22
Newsletter


SDA Asia Magazine Digital
          Vol.24/2008
      

Write for Us!

Article
Pergeseran dari Outsourcing ke Multisourcing

Ketidakpuasan dengan pola outsourcing mengubah cara perusahaan dan penyedia layanan TI dalam menjalankan bisnis. Menurut Dexter Wee, General Manager iBOSS wilayah Asia Pacific bagian Infrastuktur Operations dan Outsourcing Solutions Datacraft, peralihan ke multisourcing adalah dampak dari strategi perekrutan tradisional yang tidak bisa menghadapi perubahan lingkungan bisnis. Hal ini berdampak pada pengembangan kebutuhan pelanggan.

Memang, bila ditelaah lebih lanjut, multisourcing memang menyediakan berbagai pilihan. Selain itu, dengan memungkinkan klien untuk memilih provider yang terbaik dan sumber layanan TI yang paling tepat, maka bisa didapatkan keluaran bisnis yang optimal.

Wee menambahkan, inti dari pendekatan mengelola TI adalah fakta bahwa prioritas bisnis telah berubah. Organisasi menghadapi harapan yang bertambah dan tekanan kompetitif. Apalagi ranah bisnis TI outsourcing saat ini tidak cukup hemat.

Sementara itu, seiring dengan semakin kompleksnya teknologi, pelanggan dituntut untuk memahami perubahan tersebut serta menemukan pemecahannya. Hal ini dilakukan agar hadir manfaat yang kompetitif dalam lingkungan global. Saat ini terdapat empat tren yang diyakini akan memandu pertumbuhan dan kesuksesan provider dengan layanan tren hemat seiring kehadiran multisourcing sebagai mainstream.

Pertama, klien yang kian kompleks kini menginginkan provider layanan untuk memberikan jangkauan penawaran modular yang komprehensif dan memungkinkan mereka menarik level manapun untuk membuat nyaman. Integrasi layanan baru, model harga yang transparan, dan perjanjian yang lugas akan menjadi permintaan nantinya.

Kedua, provider layanan harus menawarkan solusi yang terintegrasi, kuat, dan kredibel. Hal ini tidak hanya mencakup jasa tradisional seperti perencanaan dan dukungan, melainkan juga memperpanjang servis lebih dari biasanya.

Wee mencontohkan, penguasaan pelayanan jasa dalam lingkungan klien sepanjang daur hidup teknologi dapat memaksimalkan pengembalian investasi TI. Dengan begitu, teknologi baru dan yang sudah ada bisa diintegrasikan untuk menghasilkan nilai keluaran maksimum.

Ketiga, provider layanan harus mengubah konsep lama mereka mengenai layanan teknologi agar bisa memberikan inovasi bagi kliennya. Permintaan terhadap pengembangan yang tengah berjalan akan menjadi perbedaan mendasar dalam pasar multisourcing. Selain itu, pertarungan antara keahlian TI dan modal intelektual provider akan memperebutkan pasar provider layanan. Biaya menemukan, melatih, dan me-maintain insinyur-insinyur in-house adalah beban berat bagi organisasi di luar industri teknologi. Inilah kesempatan bagi para provider layanan yang sanggup menyediakan SDM dan sumber tingkat tinggi untuk menguasai pasar.

Dengan demikian, pendekatan multisourcing menawarkan rumus keberhasilan, yakni kreasi nilai optimal dan inovasi. Selain itu, pembatasan bisnis dan pengembalian modal investasi TI akan menghasilkan kesuksesan baik, untuk klien maupun provider.

Redaksi SDA Asia Magazine

 
Other Article
 
Advertisement Space
 
News
 
Feature