• Selasa, 16 Maret 2010, 19:43
Newsletter


SDA Asia Magazine Digital
      

Write for Us!

Feature
Menghitung Resiko Bisnis

Terjangan badai krisis global yang diawali dari bisnis perbankan membuat pelaku bisnis ini menjadi kian berhati-hati dan mulai memikirkan mengenai penanganan manajemen resiko bagi perusahaannya. Hal ini senada dengan hasil laporan Economist Intelligence Unit berjudul "The Bigger Picture Enterprise Risk Management in Financial Services Organization" yang melakukan survei terhadap 316 eksekutif perusahaan jasa keuangan.

Berdasarkan survei tersebut disebutkan bahwa lebih dari 70 persen responden yakin bahwa nilai kerugian yang timbul dari krisis perkreditan terutama disebabkan oleh kegagalan untuk menangani masalah manajemen resiko. Sehingga para eksekutif perusahaan mulai memberikan perhatian serius terhadap masalah ini. Sebanyak 59% responden menyatakan bahwa krisis kredit memaksa mereka untuk meninjau kembali praktek manajemen resiko yang selama ini dijalankan secara lebih rinci dan cermat. Untuk mengantisipasi pemeriksaan dari para regulator, banyak lembaga juga meninjau kembali model manajemen resiko yang mereka pergunakan.

Survei yang dilakukan terhadap SVP/VP/Director, CEO/ President/Managing Director, CFO/Treasurer/Controller, C-level executives, Manager, Head of Department, Board Member, Head of Business Unit, dan CIO/Technology Director, ini berhasil mengidentifikasi berbagai tantangan yang berdampak pada penerapan pendekatan manajemen resiko yang komprehensif. Bagi para responden yang bekerja di perusahaan-perusahaan jasa keuangan, hambatan utama yang sering dihadapi adalah masalah akses terhadap data yang relevan, tepat waktu dan konsisten. Faktor lain yang diakui hampir setengah dari responden adalah bahwa mengadopsi budaya manajemen resiko merupakan tantangan terbesar yang dihadapi oleh perusahaan.

Perusahaan-perusahaan yang ikut dalam survei yang melibatkan berbagai perusahaan di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah & Afrika, Amerika Utara, Eropa Barat, Eropa Timur dan Amerika Latin, sepenuhnya menyadari bahwa program manajemen resiko yang terintegrasi memiliki manfaat bagi perusahaan yang tidak hanya dihitung secara kuantitatif. Di area seperti risiko kredit dan risiko pasar, pendekatan yang terintegrasi akan secara efektif membantu perusahaan dalam penempatan modal dan pengendalian kerugian. Pendekatan terintegrasi juga berfungsi sebagai bentuk perlindungan dari reputasi buruk.

John Foulley, Risk Management Practice, Head, AP, SAS, sebuah perusahaan penyedia layanan bussiness analytics, menilai bahwa survei ini merupakan bukti bahwa manajemen resiko yang dibutuhkan lembaga-lembaga keuangan melampaui peraturan yang sekarang ada dan harus berani mematahkan model tradisional yang telah ada serta dikembangkan ke model yang melihat resiko perusahaan secara lebih luas.



Eka Santhika

 
Other Feature
 
 
News
 
Article