EMV (Euro Pay, Master Card, Visa standard) merupakan teknologi keamanan digital finansial terbaru yang tengah menjadi tren saat ini. Dengan memanfaatkan sebuah chip yang tertanam dalam kartu, teknologi ini dikabarkan dapat memberikan keamanan yang lebih baik dari teknologi sebelumnya yang menggunakan magnetic stripe seperti yang saat ini umum digunakan oleh berbagai kartu kredit dan ATM di Indonesia yang rentan terhadap penipuan dan tindak kejahatan lain.
Keamanan yang ditawarkan oleh teknologi ini, seperti disebutkan oleh NG Fook Seng, Senior Vice President, Security Bussiness Unit Asia, dari Gemalto, terletak pada chip yang disebut sebagai
crypto chip. Dengan adanya chip ini, kartu debit, maupun kredit perbankan menjadi lebih pintar karena untuk menggunakannya diperlukan dua langkah pengenalan untuk memastikan yang menggunakan kartu itumerupakan orang yang tepat.
Langkah Pertama adalah lewat identifikasi. Identifikasi dilakukan dengan mengenali siapa pemegang kartu itu dengan memasukan data pemilik ke dalam kartu. Langkah kedua adalah autentifikasi. Autentifikasi dilakukan dengan melakukan pengecekan silang apakah yang melakukan transaksi menggunakan kartu tersebut benar orang yang telah masuk dalam identifikasi.
Dua langkah pengamanan ini diyakini Suzanne Tong-Li, senior VP-Asia Pasific, Secure Transaction dari Gemalto, dapat mngurangi resiko penipuan, terutama ketika kita melakukan transaksi e-banking atau layanan belanja melalui internet.
Lebih lanjut, Seng mengatakan kasus penipuan yang sering terjadi ketika kita melakukan transaksi melalui internet adalah dengan memanfaatkan nomor rekening korban. Resiko ini saat ini telah berusaha diminimalkan dengan menggunakan token. Namun, Gemalto, sebagai pemimpin pasar keamanan digital, mengklaim mampu memberikan layanan keamanan yang lebih baik.
Dengan memanfaatkan sebuah optikal reader dan sebuah kartu EMV, maka para pelaku transaksi online diharapkan dapat mendapat keamanan yang lebih. Sebab, seperti disebutkan Seng, dengan memasukkan kartu EMV ke dalam optikal reader, pelaku transaksi harus memasukkan pin untuk dapat memperoleh angka token. Keamanan lainnya yang diperoleh dengan kecanggihan teknologi chip adalah kemampuan merekam kebiasaan berbelanja pengguna kartu.
Ketika suatu saat kartu yag digunakan mengeluarkan uang dalam jumlah besar diluar kebiasaan, maka kartu akan mengidentifikasi keanehan ini dan segera melakukan hubungan dengan pihak bank, agar pihak bank dapat memastikan bahwa transasksi berjumlah besar itu memang dilakukan oleh pemegang kartu atau tidak.
Penggunaan angka-angka token acak ini juga mempersulit para hacker mengeruk uang dari nomor rekening pengguna. "Ketika melakukan transaksi online dengan menggunakan nomor rekening dari kartu yang menggunakan chip EMV, maka yang diminta adalah nomor token acak pengguna, setelah memasukkan nomor rekening pengguna. Hal ini dikonfirmasi dari portal tempat belanja online kepada pihak bank. Kemudian pihak bank akan meminta portal belanja online itu untuk
menanyakan kode password (dari token acak) kepada pelaku transaksi," jelas Seng.
Melihat berbagai fitur kemanan yang disediakan oleh teknologi chip EMV ini, tampaknya memberikan harapan keamanan yang lebih baik bagi mereka yang gemar melakukan transaksi online.
Eka Santhika





