IPTV (IP Television) telah menjadi salah satu bisnis yang tumbuh di Asia Pasifik. Menurut riset In-Stat, bisnis IPTV diprediksi akan meraih 8,1 milyar di tahun 2011.
Berkaitan dengan perkembangan ini, berikut wawancara SDA Asia Magazine dengan Pamungkas Trishadiatmoko, Content dan Media Manager, PT. Ericsson Indonesia:
SDA Asia Magazine (SDA): IPTV saat ini berkembang di Asia. Menurut riset In-Stat, pertumbuhan IPTV di Asia Pasifik diprediksi mencapai 8,1 miliar pada 2011 dan pasar IPTV Asia Pasifik diharapkan mencapai 39 juta subscriber. Bagaimana pendapat Anda mengenai pertumbuhan IPTV ini?
Pamungkas Trishadiatmoko (PT): Sangat menjanjikan pertumbuhan ini karena didasarkan beberapa alasan. Pertama, meningkatnya tingkat kepermirsaan TV saat ini. Kedua, meningkatnya jumlah pembelian TV dan HDTV yang didorong semakin murahnya teknologi TV dan persaingan pasar TV dan HDTV. Ketiga, semakin "cluttered"-nya tontonan free To Air TV yang ada saat ini. Di sisi lain, mulai muncul kecenderungan preferensi selera penonton yang semakin beragam dan tidak bisa diseragamkan di kemudian hari. Keempat, teknologi memungkinkan penonton mendapat kemudahan untuk memesan tontonan, menunda tontonan bahkan variasi penawaran tontonan TV semakin beragam. Lintas batas dan negara selain teknologi IPTV juga menjanjikan interaktivitas bagi penontonnya.
SDA: Saat ini, IPTV di Hong Kong, China, Korea Selatan, Taiwan, Jepang, dan Malaysia berkembang pesat. Menurut Bapak, apa tantangan dan kendala yang dihadapi Indonesia dalam mengembangkan dan mengadopsi IPTV ini?
PT: Tantangan di Indonesia saat ini adalah infrastruktur untuk IPTV dalam hal ini fixed broadband. Selain itu, tantangan yang dihadapi juga berkaitan dengan keragaman isi siaran, kreativitas untuk menciptakan program interaktif yang melebihi tontonan konvensional yang ada saat ini.
SDA: IPTV saat ini masih menjadi layanan yang berkembang di pasar Asia, di mana pembajakan dvd dan download konten ilegal masih marak terjadi. Apakah nantinya akan ada permintaan dari real customer terhadap layanan next-generation TV ini?
PT: pembajakan memang masih merupakan hal yang banyak terjadi saat ini, namun kebutuhan akan tontonan yang lebih bervariasi, interaktif, tersedia setiap saat sesuai kebutuhan seperti yang ditawarkan oleh IPTV tetaplah akan menjadi daya tarik bagi konsumen sepanjang sesuai dengan kriteria dasar pasar yaitu murah, menarik, mudah diakses setiap saat dan tersedia layanan dan fasilitasnya.
SDA: Apa tantangan yang dihadapi penyedia layanan berkaitan dengan pengembangan IPTV, baik secara umum maupun khusus di Indonesia?
PT: Di Indonesia, permasalahannya adalah ketersediaan infrasuktur jaringan fixed broadband yang masih terbatas, sehingga secara bisnis ini tidak masuk dalam skala ekonomis yang cukup untuk bisa dijual dengan harga yang kompetitif di pasar. Selain itu, konten juga belum banyak tersedia dan dapat menyediakan tontonan yang interaktif, menarik sesuai karakter model layanan IPTV.
SDA: Bagaimana Ericsson menyikapi perkembangan IPTV di Indonesia? Karena dari tahun kemarin kabarnya banyak operator yang tidak mau mengembangkan layanan IPTV ini sementara Ericsson bisa dikatakan stand by dengan IPTV ini.
PT: Ericsson Indonesia sebagai pemimpin industri terus berkomitmen untuk mengembangkan inovasi-inovasinya dan juga berbagi dengan pelanggannya mengenai apa saja teknologi yang nantinya menjadi model ke depan dan dapat menarik bagi konsumennya, sehingga dapat memberikan keuntungan bagi operator maupun pelanggan dengan komunikasi yang menjadi lebih kaya lagi.
SDA: Menurut Bapak, perlukah ada konsep kebijakan layanan IPTV di Indonesia?
PT: Sepanjang kebijakan yang dikeluarkan pihak yang punya otorisasi itu mendukung kemajuan industri IPTV dan melindungi para pemain dan pelangganya, rasanya kebijakan itu wajar diperlukan. Namun ini menjadi wilayah pemerintah dan badan otorisasi yang terkait yang lebih berhak menyampaikan pandangan tentang perlu tidaknya konsep kebijakan ini.
SDA: Apa rencana Ericsson ke depannya berkaitan dengan pengembangan IPTV di Indonesia?
PT: Ericsson berencana memperkuat pasar IPTV di Indonesia. Hal ini seiring dengan telah diakuisisinya penyedia bisnis dan sistem TV digital "Tandberg" menjadi bagian dari kelompok usaha Ericsson. Ericsson juga melakukan pendidikan, pelatihan para calon programmer aplikasi-aplikasi yang terkait dengan bisnis layanan IPTV, melakukan agregasi dan penjajakan kerjasama dengan para calon penyedia konten di IPTV baik itu production house, content provider, maupun media.
SDA: Menurut Bapak, sebenarnya apa yang menjadikan orang, khususnya konsumen pasar di Indonesia untuk tertarik dengan IPTV?
PT: Selama tontonannya menarik, mudah diakses, mudah dilihat setiap saat sesuai keinginan personal dan harganya terjangkau, pasti akan menarik pasar penonton di Indonesia.
Widia Yurnalis





