Zero downtime selalu dianggap memakan biaya yang sangat mahal. Selain itu, untuk berada pada kondisi itu, klien pun harus mampu memastikan bahwa karyawan mereka terlatih dengan sangat baik untuk melakukan evakuasi data dan sistem serta melakukan back-up ke dalam sistem saat terjadi bencana. Hal ini dilakukan agar data tetap terselamatkan dan sistem mampu bekerja.
Bagaimana membuat bisnis dapat terus berjalan dengan baik dan investasi untuk membangun beberapa gedung untuk data center di wilayah strategis bisa memberikan keuntungan bagi perusahaan? Berikut wawancara SDA Asia Magazine dengan Alvin Siagian, Direktur-Managed Service Sigma.
SDA Asia Magazine (SDA): Apakah Anda setuju bahwa keamanan internal sangat penting dalam datacenter?
Alvin Siagian (AS): Dari segi security, itu sangat penting. Misalnya dari segi internet banking, maka semua proses bisnis akan terpengaruh. Jadi, terkait dengan sistem, maka harus dilihat proses bisnisnya.
SDA: Bagaimana Anda memandang kaitan antara penetrasi Internet dengan datacenter?
AS: Hal ini terkait dengan shared services. Dengan shared services, suatu sistem bisa dibagi dengan beberapa klien. Penggunaannya juga bisa dibagi lewat Internet.
SDA: Bagaimana pandangan mengenai penggunaan tenaga air pada datacenter di Indonesia?
AS: Kalau menurut saya, tenaga air dan tenaga uap tidak dibutuhkan lagi. Karena sekarang sudah banyak sungai yang kering. Untuk Indonesia sendiri dengan banyak pulau, akan sulit dapat air. Misalnya saja China yang menggunakan tenaga air, dam-dam yang ada tidak mencukupi.
SDA: Bagaimana pandangan Anda mengenai penetrasi datacenter di luar daerah Jawa?
AS: Untuk mewujudkan datacenter di luar daerah, dibutuhkan SDM yang cukup untuk mengantisipasi berbagai masalah. Hal ini juga perlu pertimbangan mengenai apakah menggunakan datacenter sendiri atau tidak. Dengan demikian, bisa terlihat efisiensi suatu perusahaan. Jika di sebuah cabang atau daerah, bisa didapat efisiensi besar dengan menggunakan datacenter sendiri, maka perusahaan seperti Sigma biasanya hanya menawarkan service yang maksimal.
SDA: Apakah zero downtime menurut Anda memungkinkan?
AS: Banyak perusahaan yang saat ini meminta zero downtime. Diperlukan investasi yang sangat besar untuk memenuhi zero downtime. Hal yang penting dalam memenuhi downtime adalah bagaimana melihat apakah proses bisnis berjalan dengan lancar atau tidak. Karena kendati investasi empat kali lipat, kalau proses tidak berjalan, tetap saja zero downtime tidak bisa terpenuhi.
SDA: Salah satu biaya terbesar adalah power dan cooling. Bagaimana pendapat Anda?
AS: Hal ini benar. Karena standarnya sekitar 60% dari power dan cooling. Hal yang harus dilihat adalah bagaimana meminimalisasi Total Cost of Ownership (TCO). Itulah sebabnya kepercayaan di Indonesia sangat penting. Saya berusaha agar biaya di bawah 60% dari biaya power consumption. Normalnya di dunia, apalagi dengan TI Hijau, biaya untuk power sekitar 40%.
SDA: Apa saran Anda terhadap penggunaan datacenter di kelas Enterprise?
AS: Hal yang paling penting adalah melihat penggunaan dengan mempertimbangkan proses. Oleh karena itu, saya selalu menekankan masalah proses bisnis. Sebelum membangun sesuatu, harus dilihat masalah proses terlebih dahulu. Karena TCO berawal dari proses. Dengan demikian, lima tahun ke depan harus bisa diprediksi karena akan berganti semuanya.
Widia Yurnalis






